Siapa bilang Berkendara itu Mudah ?

Anggapan bahwa berkendara adalah suatu hal yang mudah agaknya mesti sedikit demi sedikit ditepis. Awareness itu saya dapatkan selepas mengikuti pelatihan ala JDDC (*Jakarta Defensive Driving Consulting) di salah satu perusahaan pertambangan di bilangan TB Simatupang Jakarta. Sikap tadi sebenarnya sudah saya tanamkan sejak mengenal dunia bikers, tapi paska pelatihan tersebut kesadaran akan arti keselamatan berkendara semakin berlipat.

8 dari 10 kecelakaan jalan raya melibatkan kendaraan roda dua, apa mau kita terlibat di dalamnya? Entah menjadi penyebab atau justru menjadi korban. Menganggap remeh berkendara sepertinya lumrah terlihat di setiap kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. Sopan santun berkendara kadang tertutup oleh sikap egois dan pamer skill yang justru mengundang bahaya bagi pengendara sekitar.

Sabtu 12 Januari 2008, saya ditemani pak Jusri* hampir sepanjang sesi pelatihan, saya hadir bukan sebagai peserta resmi tapi cenderung sebagai pelajar yang selalu berusaha tidak mengedipkan mata saat para instruktur memberikan ilmunya kepada seluruh peserta pelatihan. Tangan terbuka pak Jusri sudah terlihat dari awal dimana beliau tanpa sungkan mendampingi saya sepanjang sesi kecuali saat beliau tampil di depan sebagai instruktur. Mungkin bisa dianggap hari itu saya tandem bersama beliau.

Continue reading

Fasten your Helmet

source

Berkendara sambil Pacaran atau Pacaran sambil Berkendara

Mesra sebenarnya sah-sah saja mau dilakukan kapan pun dan dimana pun. Tapi kalo menilik judul di atas kok sepertinya gemas juga setiap kali melakukan perjalanan selalu saja ada pemandangan pasangan pacaran sembari berkendara. Gayanya bisa macam-macam, ada si wanita yang memeluk erat pasangannya dan kepala di kedepankan bersebelahan dengan ridernya, ada yang melingkari tangannya ke depan dada sambil bisik-bisik sampai ada rider berkendara satu tangan sementara tangan yang lain mengelus betis hingga paha pasangannya. Hahahahahaa … bukan iri atau apa tapi apa benar si rider tetap bisa menaruh konsentrasi berkendara di tempat yang paling utama. Hanya dia yang tahu.

Jumat pagi ini hujan memang tidak deras, dan tampak gerimis kecil saja. Tapi tetap saja kualitas jalanan yang sebelumnya terguyur hujan yang deras masih menyisakan genangan di mana-mana plus warna coklat tanah yang pastinya bisa bikin celana dekil terkena cipratan. Pengendara Tiger ber stiker klub itu pun berlaku sama seperti judul diatas. Uhhh mesranya, apalagi saat kaki imut wanita terciprat air dari samping. Dengan celana dililit diatas menyisakan pemandangan betis putih indah, si rider mengelus betis kiri dengan tangan kirinya sepanjang hampir 100m. Otomatis 100m pula doi berkendara satu tangan di jalan yang licin dan basah itu. BRAVO! Hebat euy, sudah jago berkendara jago pula ber-mesra-mesraan.

Pemandangan seperti itu sudah bukan milik mereka saja tapi juga milik pasangan-pasangan lain. Entah apa akibatnya jika terjadi hal-hal tak terduga yang memerlukan kendali erat dari dua tangan. Lalu lintas kadang bersikap misterius dan mampu menghasilkan kejadian tak terduga. Tidak salah memang berkendara sembari mempertontonkan kemesraan asalkan si rider mampu mengukur kemampuan dan memiliki reflek yang baik terhadap keadaan sekitar.

Lebih baik berkendara dengan dua tangan ketimbang satu tangan bukan?

Ride Smart !

Bahaya jas hujan model Ponco

Jas Hujan model Ponco

dear semuanya….

saya mau berbagi informasi saja…
teman kantor saya hari ini telah meninggalkan rekan2 kerja, istri dan 2 anak
yang masih usia 2 tahun dan 8 bulan serta cita2nya untuk mencari kehidupan
yang lebih baik lagi bersama keluarga tercinta

yang bersangkutan mengalami kecelakaan individual di daerah rawamangun pada
pukul 6 pagi, jas hujan yang dipakai sehari2 menyangkut diputaran rantai ban
belakang motor bebek yang ia kendarai…

ybs tertarik kebelakang dan jatuh dengan leher patah…..

untuk rekan2 pengguna motor..plis kalo sayang nyawa….jangan deh
menggunakan jas Hujan Model Ponco kalo mengendarai motor…

jangan cari alasan krn bawa ransel atau bisa dipakai berduaan waktu
boncengan… dan simple dalam penggunaan.. .tapi nyawa harus meregang…

salam biker..

yudha

(*milis HTML dan beberapa milis otomotif)

MULAILAH PEDULI KEPADA DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN … JANGAN BERBUAT BODOH DI JALAN RAYA !

Lalu Lintas Darat lebih BERBAHAYA ketimbang Udara

TAHUKAH ANDA … bahwa KECELAKAAN JALAN RAYA lebih ampuh mengundang kematian daripada KECELAKAAN yang diakibatkan oleh Pesawat Terbang. Statistik berkata demikian maka PEDULILAH untuk menempatkan KESELAMATAN (*apapun bentuknya) di tingkat paling tinggi.

Seperti dikutip dari : http://www.wheelsatonce.com/bp365/index.htm

Motorcycle accidents happen every single day and often have a devastating effect on everybody involved. If you’re unfortunate enough to have been involved in one, not only are you likely to be seriously hurt and in need of expert medical care, but your family and friends are going to feel the pain of the tragedy too.

RIDE SAFE – RIDE SMART – RESPECT ROAD RULES !

Ketidakdisiplinan para pengendara

JAKARTA, KOMPAS – Setiap bulan ada sekitar 300 pengendara sepeda motor
meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di Jakarta. Penyebab
utama adalah ketidakdisiplinan para pengendara dalam berkendara.

Kepala Bidang Kajian Transportasi Universitas Trisakti Fransiscus
Trisbiantara mengatakan, sebagian besar dari mereka adalah pencari
nafkah yang tergolong dalam usia produktif. Demikian terungkap dalam
konferensi pers mengenai evaluasi transportasi di Jakarta selama tahun
2007 yang diselenggarakan oleh Institut Studi Transportasi (Instran),
Senin (31/12).

Kematian pengendara usia produktif itu dikhawatirkan memunculkan
masalah sosial, yaitu bertambahnya angka penduduk yang terancam
telantar. Mereka yang telantar adalah keluarga dari korban kecelakaan
lalu lintas tersebut.

Kajian yang ditemukan Dewan Transportasi Kota Provinsi DKI Jakarta
(DTKJ) mengungkapkan, lebih dari 50 persen korban itu tidak memiliki
surat izin mengemudi (SIM). Oleh karena itu, Trisbiantara menganjurkan
agar pihak kepolisian lalu lintas meningkatkan razia pengendara motor
secara berkala.

Trisbiantara meminta kepolisian memperketat proses pembuatan SIM. Ia
menilai selama ini pembuatan SIM dianggap terlalu mudah. Dengan
demikian, siapa pun dapat memperoleh surat izin tersebut tanpa
memerhatikan keterampilan berkendara calon pemegang SIM.

Ia juga berharap pemerintah provinsi kembali merancang pembuatan jalur
khusus sepeda motor yang sempat mengemuka. Menurut dia, jalur khusus
tersebut sangat diperlukan, mengingat pertumbuhan jumlah pengguna
sepeda motor yang tidak terkendali.

Kemacetan

Mantan anggota Komisi IV DTKJ ini mengatakan, maraknya pembangunan mal
di sudut persimpangan jalan (junction mall) akan menimbulkan
titik-titik kemacetan baru jika tidak diperhitungkan kapasitas dan
arus masuk-keluar kendaraan di mal tersebut. Oleh sebab itu,
pembangunan mal baru harus disertai dengan perencanaan penataan
transportasi pada awal pelaksanaan proyek.

Kemacetan juga bisa dikurangi dengan menata pedagang kaki lima dan
parkir di badan jalan. Berdasarkan perhitungan Trisbiantara, pedagang
kaki lima dan parkir mengurangi lebar jalan hingga 30 persen.

Menanggapi rencana Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang akan membangun
enam ruas jalan tol di tengah kota, Direktur Instran Darmaningtyas
berpendapat, hal itu tidak akan memecahkan masalah kemacetan.

Menurut dia, dalam jangka panjang, ketersediaan jalan tol tengah kota
justru merangsang pengguna jalan untuk membeli kendaraan pribadi. Hal
itu akan menimbulkan masalah kemacetan yang lebih hebat dalam tiga
hingga empat tahun ke depan.

Seharusnya Pemerintah Provinsi DKI mengoptimalkan penggunaan sarana
transportasi massal yang sudah ada selama ini, misalnya bus jalur
khusus (transjakarta).

Kenaikan tarif bus bisa saja dilaksanakan bila sistem keuangan
perusahaan pengelola sudah terjamin transparansi dan akuntabilitasnya.
Apabila tarif sudah bisa dinaikkan, subsidi pemerintah dialihkan untuk
meremajakan bus-bus kota yang ada sehingga pengguna kendaraan pribadi
mau beralih menggunakan angkutan massal.

Separator

Darmaningtyas menyatakan keberatan jika separator jalur bus
transjakarta dihilangkan. Ia beralasan, meskipun sudah dipasang
separator, jalur bus khusus itu sudah sering diserobot kendaraan lain.
“Apalagi kalau tidak ada separator,” ujarnya.

Penyerobotan jalur itu menyebabkan kemacetan bagi angkutan massal yang
semula dirancang untuk bebas macet itu.

Darmaningtyas khawatir, orang yang semula sudah bersedia menggunakan
bus jalur khusus akhirnya berpindah kembali ke kendaraan pribadi
karena sama-sama mendapat kemacetan. (A07)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/02/metro/4114752.htm

Sadar Keselamatan Diri Sendiri

Perlengkapan lengkap Aman Berkendara (*istilah kerennya Safety Riding) memang tidak menjamin kita mampu selamat dari kecelakaan tapi paling tidak perlengkapan yang memadai dapat mengurangi resiko cedera berlebih. Jadi inget beberapa cerita teman dibawah ini …

1. Helm tidak di-klik.
Sebut saja namanya Eben, kalo naik motor selalu menyepelekan bunyi klik yang seharusnya terdengar saat kita mengenakan helm. Cerita punya cerita di tengah perjalanan kepalanya benjol setelah terjatuh dari motor setelah helm nya terlepas dari kepala. Kok bisa lepas? Ya karena ga di klik sih. Kok bisa jatuh? Ya namanya jalanan siapa saja bisa berbuat kesalahan dan kali ini kesalahan dibuat pengendara motor batangan yang berjalan zig-zag. Seperti efek domino, ketika ada momen beradu satu sama lain, efeknya bagi yang sudah berhati-hati pun bisa ketiban sial. Dan kali ini menimpa si Eben, dah sial kena efek domino, eh tuh helm melejit dari kepala yang membuatnya terjatuh dan benjol. Beruntung hanya benjol, coba kalo kepalanya kesambar motor dari belakang. Iiihhh … serem deh. Yuk .. di klik helmnya, tapi liat lagi helm nya ! Cetok bukan? lha wong helm mahal aja bukan jaminan selamat apalagi model cetok. Pake Cetok? Goblok ! Ga pake? Apalagi !!

2. Kebetulan pake Sandal.
Nah yang ini namanya Sapto, sehari-harinya melintas di jalur Casablanca. Jalanan seperti menyimpan sebuah kejutan dan sewaktu-waktu kita sebagai pengguna jalan bisa menjadi penerima kejutan tersebut. Sehari-hari Sapto memang mengenakan sepatu untuk berkendara tapi ya dasar nya lagi apes, di hari yang cerah itu karena terburu-buru justru sepatu yang biasa dipakainya kini terlewatkan untuk dikenakan. Jadilah kita tengah melintas di Fly Over, entah tergerus aspal atau mungkin terbentur footstep motor lain, sukseslah punggung kakinya mengucurkan darah segar. Kejadian kecil yang seharusnya bisa diantisipasi oleh sebuah sepatu tapi justru hanya membuahkan penyesalan karena sifat terburu-burunya. Sepatu menjadi perlengkapan standar berkendara karena memang memberikan perlindungan, tentunya kembali ke kualitas sepatu itu sendiri. Dan jika kita sudah berniat melindungi diri sendiri sedari awal, semoga kejadian kucuran darah itu tidak menimpa diri kita.

3. Salahkan pak Polisi !!!
Kemacetan sudah tidak bisa dihindari lagi dan memang sudah menjadi menu utama berkendara sehari-hari. Kejadian sedikit berbeda di pagi hari yang cerah ini. Continue reading