Snapshot @ MetroTV

dsc02408.jpg

“Peraturan dibuat untuk dilanggar!” …. glekkk … atau “Ubahlah diri anda sendiri sebelum anda menuntut perubahan dari orang lain”, nah lho ? Dalem … jika anda pintar!.

Seperti sebuah penyakit menular, ketidak disiplinan di jalan raya sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Itu yang menjadi menu utama acara “Snapshot” yang digelar di Metro TV saban minggu sore pukul 17:30. Lain waktu membahas fenomena sembarang parkir, sementara di waktu yang lain mengupas penyakit gerombolan kendaraan yang menyita lajur busway. Antara ironis dan dilematis dimana pemerintah daerah tak kunjung menyediakan ruang yang ideal bagi pengguna Jalan Raya, mayoritas pengendara pun enggan menjadi bagian dari mereka yang patuh dan disiplin. Kutipan-kutipan unik yang membumbui liputan “Snapshot” sudah semestinya membuat kita yang melihat acara tersebut pelan-pelan mau sadar diri. Jika tak cukup pintar, esok pagi pun kita sudah kembali melanggar ini dan itu saat berkendara di Jalan Raya.

Sesulit itukah bangsa Indonesia menyikapi sebuah peraturan dan hubungannya dengan penegakkan kedisiplinan? Mungkin kita harus kembali pada kalimat paling atas. “Ubahlah diri anda sendiri sebelum anda menuntut perubahan dari orang lain”, tapi jangan serta merta kalimat tadi dijadikan kalimat penegasan baru, “ah saya tidak menuntut!”

2 Responses

  1. Mungkin tanggapan saya ini tidak berhubungan langsung dengan tema di atas, tapi saya hanya mau komentar tentang acara snapshot yang tonton pada tanggal 13 Mei 2008. Di acara itu membahas tentang penggunaan berbagai istilah asing pada masyarakat. Menurut saya ironis sekali, karena nama acara ini pun memakai istilah asing yang pada sebagian besar masyarakat tidak mengenal istilah itu. Bahkan yang lebih lucu lagi pembawa acara menutup acara dengan kalimat yang kurang lebih seperti ini “janganlah menuntut perubahan jika kita tidak memulai perubahan dari diri kita sendiri”.

    Yang lebih parah juga Metra TV yang selalu dengan bangga menggunakan istilah asing untuk sebagian besar nama acaranya. Bahkan ‘mereka’ dengan tanpa ragu-ragu melafalkan negara Cina dengan cara lafal bahasa Inggris: Caina. Aneh sih!!!!!

  2. aku setuju bgt ama Stenly Massie…selain itu… bahasa bukanlah sesuatu hal yg statis…akan tetapi bahasa slalu berkembang…dipengaruhi dari berbagai bahasa didunia…ambil contoh halal… lebih jauh lagi penggunaan bahasa tergantung dari tujuan penggunaanya…sehingga dalam iklan contohnya… banyak aturan2 dalam penggunaan bahasa yang diabaikan untuk membuat slogan iklan yg mudah diingat…bahkan bahasa jg bs digunakan sbg penunjuk status ato golomgan tertentu…maka kebanyakan anak muda menggunakan bahasa slang..
    oh ya…aku usul knapa kita gak meliput penggunaan huruf sansekerta di Indonesia..karna ini aksara asli kita…selain itu berbagai daerah memiliki aksara ini. contohnya jawa dan sumatera…mungkin ini yg harus kita kembangkan seperti di cina jg jepang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: