SAYANGI ANAK ANDA

Pemandangan berkendara satu keluarga berisi 3 orang dengan motor sudah lumrah terlihat di tengah-tengah padatnya jalanan Jakarta. Motor sebagai moda transportasi yang terjangkau tentunya menjadi pilihan yang tepat bagi sebuah keluarga. Tapi tahukah anda bahwa kendaraan roda dua tidak didesain untuk 3 penumpang ? Motor didesain untuk 2 penumpang, pengendara dan pembonceng (*boncenger istilahnya). Apa daya ketentuan tersebut mentah saat perilaku penambahan penumpang masih banyak terlihat yang tentunya ini menyimpan ancaman tersendiri jika tidak disiasati dengan berbagai trik. Fakta ini memang tidak sepenuhnya bisa dikatakan salah karena pada kenyataannya pihak yang seharusnya wajib menegur terlihat santai-santai saja.

Lalu apa solusinya jika ingin tetap berkendara dengan keluarga? Dan si kecil ingin diberikan tempat dimana ? Dari yang terlihat banyak pengendara yang masih menempatkan posisi anak sebagai tameng di kemudi setang, berikut kemungkinan yang dapat terjadi akibat penempatan yang keliru tersebut disadur dari artikel kecil Jawa Pos :

1.Rawan benturan bila motor jatuh,
2.Bisa menyebabkan kematian mendadak, karena kehilangan panas tubuh denga ncepat lalu mengalami Hipotermi, suhu tubuh lebih rendah dari suhu sekitar,
3.Beresiko terkena asap kendaraan bermotor,
4.Paparan CO terus menerus bisa menyebabkan : Kelainan Darah, Keracunan hingga Anemia dan Leukimia.

Solusi ala artikel tersebut adalah “PAKAI KENDARAAN UMUM, JANGAN BIARKAN BUAH HATI ANDA MENJADI KORBAN KETIDAKTAHUAN KITA”.

Jika alternatif memakai kendaraan umum dianggap bukan menjadi solusi yang tepat tentunya harus disiasati dengan trik lain seperti menempatkan si kecil di posisi tengah, karena :

1.Perlindungan akan lebih maksimal oleh si pembonceng,
2.Lebih hangat dan terhindar dari sapuan angin yang datang dari depan,
3.Tentunya tetap mengenakan helm sebagai media pertama pencegah efek kecelakaan.

Bagaimana jika 2 anak yang ingin dibonceng dan menjadi 4 orang dalam satu motor ? Hhhmmm , itu bukan sebuah pilihan yang bijaksana dan menjadi pengendara yang menerapkan “Responsible Riding” tentunya segala kemungkinan yang berkaitan dengan keselamatan harus dipertimbangkan.

Be Responsible !

*Andry Berlianto 

3 Responses

  1. Dalam kondisi tertentu, saya memboncengkan anak saya – perempuan 3 tahun – di tengah, akrena tubuhnya termasuk kecil. Tentu dia juga memakai helem anak. Bahkan anak saya sendiri yang meminta dibelikan – meski saya juga berniat beli helem anak sejak lama – karena pengen seperti ayah dan mamanya.

    But, ada kondisi tertentu saya lebih memilih naik angkutan umum, jika jalur dan moda transportasinya saya pandang aman dan nyaman. Atau saya naik motor, lalu anak dan mamanya naik angkutan umum (yang aman dan nyaman). Opsi terakhir itu jarang saya pilih. Karena saya lebih mantap jalan bertiga bareng (by motor atau angkutan umum).

    Anak ditaruh di depan? NO WAY!!!
    Mendingan anak saya nangis girap-girap dari pada saya merelakannya (dibonceng tetangga – walau jarak dekat) di taruh di depan.

    Sepertinya kita punya kepedulian yang sama Mas?
    Salam safety riding.

  2. Sepertinya kita punya kepedulian yang sama Mas?
    ——> gue concern banget sm perilaku aman berkendara. blog inilah gue buat agar masyarakat yg dpt mencari info via web dapat mengerti arti pentingnya sebuah keamanan dalam berkendara dan menginformasikannya kepd orang2 terdekat

    Salam

  3. […] apa solusinya jika ingin tetap berkendara dengan keluarga? Tanyakan pada rumput yang goyang aja […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: