MENEPI NYAMAN DI KALA HUJAN

Para Motorist paling takut kalau hujan, berlomba-lomba mencari tempat teduh. Tempat favorit biasanya di kolong jembatan layang dan halte-halte bis. Karena buru-buru menepi biasanya motor bertumpuk-tumpukan menghalangi jalan dan membuat jalan jadi macet.

Biar gak menganggu jalan dan bikin macet, siapkan selalu jas hujan di motor. Kalau lupa bawa dan harus meneduh, carilah tempat yang lebih aman dan nyaman. Di Warteg atau warung makan lebih enak ketimbang di pinggir jalan. Bisa nunggu hujan sambil makan pisang goreng dan kopi panas. Yang jelas, tidak mengganggu pengguna jalan lain dan bikin macet!

source : http://www.wahanaartha.com/Tips_Wahana_Detail.aspx?ID=154

Advertisements

Cerita Veteran

(semoga bisa menjadi renungan tentang peruntukan trotoar)

Saya Punya cerita kemarin sepulang ngantor didaerah Jl. garuda Kemayoran. Setelah Macet yang lama di perempatan sebelum pintu kereta api, sepintas dan ngeliat ada engkong-engkong yang menggunakan sepeda (BMX) dimana masih menggunakan atribut lengkap tentara ( Veteran ). Beliau tepat berada di depan motor saya pas sebelah paling kiri jalan, didepannya ada sedan parkir agak menjorok ke badan jalan separuh masuk ke pedestrian. Sang Veteran berhenti karena tidak ada jalan untuk meneruskan sepedanya, salah seorang dari pedagang meneriaki ” pak mending lewat trotoar ” sang kakek menjawab ” gak pak itu buat orang jalan nanti ganggu “. duh gue yang mendengar trenyuh sumpah……..masih ada jiwa besar dari seorang veteran utnuk dapat mematuhi aturan lalu lintas, bagaimana dg kita yang muda yang memakai sepeda motor ….

akhirnya pada saat itu juga saya sempatkan untuk menyalami dan berkata ” hebat pak, anda masih sangat disiplin akan lalu lintas.

setelah acungin jempol saya sedikit berpikir ” jika pengguna motor di jakarta seperti beliau alangkah indahnya jakarta ini………

disiplin berlalu lintas

wahyu YJOC 014

SAYANGI ANAK ANDA

Pemandangan berkendara satu keluarga berisi 3 orang dengan motor sudah lumrah terlihat di tengah-tengah padatnya jalanan Jakarta. Motor sebagai moda transportasi yang terjangkau tentunya menjadi pilihan yang tepat bagi sebuah keluarga. Tapi tahukah anda bahwa kendaraan roda dua tidak didesain untuk 3 penumpang ? Motor didesain untuk 2 penumpang, pengendara dan pembonceng (*boncenger istilahnya). Apa daya ketentuan tersebut mentah saat perilaku penambahan penumpang masih banyak terlihat yang tentunya ini menyimpan ancaman tersendiri jika tidak disiasati dengan berbagai trik. Fakta ini memang tidak sepenuhnya bisa dikatakan salah karena pada kenyataannya pihak yang seharusnya wajib menegur terlihat santai-santai saja.

Lalu apa solusinya jika ingin tetap berkendara dengan keluarga? Dan si kecil ingin diberikan tempat dimana ? Dari yang terlihat banyak pengendara yang masih menempatkan posisi anak sebagai tameng di kemudi setang, berikut kemungkinan yang dapat terjadi akibat penempatan yang keliru tersebut disadur dari artikel kecil Jawa Pos :

1.Rawan benturan bila motor jatuh,
2.Bisa menyebabkan kematian mendadak, karena kehilangan panas tubuh denga ncepat lalu mengalami Hipotermi, suhu tubuh lebih rendah dari suhu sekitar,
3.Beresiko terkena asap kendaraan bermotor,
4.Paparan CO terus menerus bisa menyebabkan : Kelainan Darah, Keracunan hingga Anemia dan Leukimia.

Solusi ala artikel tersebut adalah “PAKAI KENDARAAN UMUM, JANGAN BIARKAN BUAH HATI ANDA MENJADI KORBAN KETIDAKTAHUAN KITA”.

Jika alternatif memakai kendaraan umum dianggap bukan menjadi solusi yang tepat tentunya harus disiasati dengan trik lain seperti menempatkan si kecil di posisi tengah, karena :

1.Perlindungan akan lebih maksimal oleh si pembonceng,
2.Lebih hangat dan terhindar dari sapuan angin yang datang dari depan,
3.Tentunya tetap mengenakan helm sebagai media pertama pencegah efek kecelakaan.

Bagaimana jika 2 anak yang ingin dibonceng dan menjadi 4 orang dalam satu motor ? Hhhmmm , itu bukan sebuah pilihan yang bijaksana dan menjadi pengendara yang menerapkan “Responsible Riding” tentunya segala kemungkinan yang berkaitan dengan keselamatan harus dipertimbangkan.

Be Responsible !

*Andry Berlianto 

Refleks yang Membahayakan

Kemaren sabtu – minggu  jalan jalan ke Bayah, lewat cigombong bogor, cikidang,pelabuhan ratu- Bayah, pulangnya lewat malingping, lebak, jasinga bogor- Jakarta.

Karena cuma betiga, akhirnya malah jadi ajang latian safety speed turing, ehmm disatu cornering kanan 180 derajat dan juga karena fisik yang dah drop  gw ga bisa kontrol speed lagi, akhirnya melebar keluar masuk tanah, terantuk antuk kontur tanah yg gak rata, dan terpelanting, gw jatuh dikiri, dan motor gw nindihin badan termasuk kepala gw,  beruntung helm dan proteksi gw cukup, sehingga walaupun helm gw ditindihin enggine motor kepala gw tetap aman, begitu juga dengan bagian tubuh yang laen.

setelah motor diangkat ama temen yang gw rasain memar justru di tumit kiri gw…

Sepanjang jalan gw mikir kenapa bisa tumit gw yang kena yah…akhirnya gw faham..ternyata kalau gw ngadepin masalah dengan lari motor, kaki kiri gw refleks turun dari foot step.

So pelajaran yg gw ambil, gw harus mengendalikan refleks untuk tidak turunin kaki pada saat situasi panik, termasuk tidak narik tuas kopling…

Itu yg bisa gw share…

Allan
Think Again !

( source : Forum Safety Riding Jakarta )

Penempatan Posisi Jari Pada Tuas Rem

Banyak yang merasa bingung tentang bagaimana posisi jari yang benar saat berkendara agar siap dan sigap untuk menekan tuas rem apabila terjadi pengereman. Ada yang bilang dua jari saja cukup (jari telunjuk dan jari tengah), ada yang bilang tiga jari (juga) saja cukup tapi ada juga yang mengatakan empat jari.

Dilema ini muncul karena ada sebagian bikers yang beranggapan bahwa menggunakan dua atau tiga jari tidaklah aman karena cenderung posisi gas belum “tertutup” sehingga motor pun masih melaju dan pengereman tidak sempurna. Sementara ada juga yang beranggapan bahwa pengereman dengan empat jari terasa janggal dan tidak bisa memegang kendali pada kemudi (stang) apabila terjadi sesuatu karena jari yang tersisa pada grip gas hanyalah jempol.

Sebenarnya dua atau tiga jari sudah cukup karena dengan jari tersebut anda sudah maksimal melakukan penekanan tuas rem dan masih ada tiga atau dua jari lagi yang menempel pada jari grip gas yang dapat mengendalikan kemudi (stang).

Apabila terjadi sesuatu, sebenernya ini semua tergantung kebiasaan dan kenyamanan pengendara itu sendiri. Jadi semua tergantung pada pengendaranya mana yang lebih yakin menurut caranya. Tapi yang harus diingat adalah konsep pengeremannya. Tutup gas baru tekan remnya, terserah anda mau menggunakan berapa jari yang penting tutup gasnya dulu baru tekan tuas remnya.

Selamat berkendara.

source : M+

ETIKA BERKENDARA

Walau sehari-hari naek motor, kadang-kadang kite ‘apes’ dan terpaksa naik mobil. Eh.., pas di belakang kemudi banyak biker kadang ngeselin. Mereka nyemplak motor, lagaknya jalanan milik moyangnya. Padahal kalau kegebok, bikerlah yang cedera paling besar. Iyalah.

Nah, biar kita nggak ngeselin dan terhindar dari celaka, nggak salah menyimak tips hasil rangkuman pengalaman.

HINDARI PELAN TAPI DI TENGAH JALAN

Ini sering terjadi. Mereka adem ayem aje jalan pelan di tengah jalan. Pengemudi mobil bakal kesulitan melewatinya. Apalagi kalau mereka lagi tanggung ngebejek gas.

Continue reading