(Tidak) Menuruti Kata Hati

lalinrapi-09.jpg

Dilematis memang jika kita dihadapkan pada situasi yang idealnya tidak perlu kita lakukan. Apalagi menyangkut pemanfaatan ruang bagi bikers untuk berjalan saat lalu lintas terlihat teramat padat. Sore itu (12/09) perjalanan tidak seperti biasanya karena lama perjalanan cukup menguras keringat karena arah lalu lintas kepulangan berubah 180 derajat akibat kemacetan. Lepas dari arah Sudirman, fly over yang sudah terlihat macet sontak membuat gas motor berteriak lebih lantang agar mencari jalan alternatif. Pemikiran untuk tidak terjebak macet jatuh pada pilihan jalan tembusan menuju pasar rumput Manggarai. Jalan lowong terus terbentang di jalur Sudirman hingga fly over sungai Ciliwung, motor bergerak ke kiri menuju arah lintasan kereta api. Jalanan di sisi lintasan KA ternyata sama padatnya hingga motor saya pun harus rela antri dan tetap berusaha menegakkan disiplin untuk tidak menjejakan ban ke trotoar yang mungkin kalo diukur benar-benar spacenya seukuran bodi motor. Hingga saat ini pun saya iseng-iseng masih mencari pengetahuan batasan ruang yang disebut trotoar mulai dari sisi ukuran lebar maupun tinggi.  Dan akhirnya ditemukanlah file ini. Tidak menjawab pertanyaan sepenuhnya memang tapi sejauh ini hanya materi ini lah yang bisa saya temukan soal pemanfaatan jalan.

Kembali ke soal perjalanan dimana mayoritas motor pun sudah se-enak udelnya menikmati jasa jalur busway di sebelah kanan dan di sebelah kiri masih relatif aman dari jarahan ban-ban iseng untuk menikmati trotoar. Alur jalan pun ke arah pasar rumput makin rumit akibat bertumpuknya dua lajur mobil dan satu lajur tersisa untuk motor di sebelah kiri. Tangan-tangan gatal bikers dibelakang sepertinya sudah matang untuk menekan gas naik ke trotoar. 4-5-6-7-8 ya sebanyak itulah kira-kira satu persatu motor melaju mulus menyisakan saya yang terjebak di pinggir jalan. Jalur rata kiri yang seharusnya bisa disamakan oleh semua mobil justru jadi pengecualian bagi satu mobil ini saat kendaraan tersebut berbaris tidak lurus, seolah-olah tidak mempedulikan suara klakson saya yang sedikit meminta jalan. Runyam juga kalau saya harus menikmati ledekan mobil ini yang tidak mau berbagi ruang sementara space di sisi kanan juga sama padatnya.

Hingga akhirnya terlintas juga untuk naik trotoar hati, ditekanlah handle gas untuk naik beberapa meter saja untuk melewati mobil tadi dan nantinya kembali turun ke jalur yang semestinya. Dag dig dug naik trotoar bareng-bareng sama rekan klub/komunitas yang sama-sama mencari jalan pintas, setelah terhalang pohon akhirnya saya baru bisa kembali ke jalan beberapa meter di depan sementara motor lain mungkin sudah lupa diri dan terus menikmati tol gratisan khusus motor tadi.

Sisa perjalanan memang berkelanjutan macet seperti biasa tapi justru ulah naik trotoar itulah yang masih mengganjal, tapi memang hingga saat ini pun tindakan tersebut saya pribadi pikir masih reasonable ketimbang jadi pelanggan setia jasa trotoar yang bisa naik kapan saja dimana saja. Ingat bahwa konsep TROTOAR adalah hanya untuk pejalan kaki.

Soal indahnya berbagi jalan mungkin bisa sekaligus di share disini, thanks to bro Saftari atas artikel di web nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: